Ilmu kukejar, cinta
menghampiri
Di sebuah rumah
sederhana aku dan keluargaku bercengkrama. Pada suatu hari yang cerah, aku
bergegas menuju kampus tercintaku untuk menimba ilmu. “habibah, jangan lupa
sarapan dulu”, begitulah teriak ibuku jika beliau tau aku sudah berdandan rapih
menuju pintu. Yah, karena beliau paham betul dengan kebiasaanku yang jarang
sekali bercengkreama dengan nasi. Tanpa berfikir panjang, akupun mengiyakan
nasehat ibu. Aku menyantap masakan ibuku dengan adikku. Tanpa waktu yang lama, piringku telah bersih
dari hidangan pagi ini. Tak lupa ku pamit dengan ibuku dan juga adik-adikku.
Kebetulan, hari ini adikku libur sekolah karna ada try out untuk siswa kelas
IX. Subhanallah, mentari menyambutku dengan
sebuah keceriaan dan semangat yang menggebu. Tanpa membuang banyak waktu, ku
tunggangi kuda besiku dan siap meluncur ke kampus tercintaku.
15 menit sudah ku
menyusuri jalan yang berliku. Akhirnya ku sampai dikampus tercintaku, Stai Anak
Bangsa. Suasana kampus menyambutku dengan keramahan dan pesonanya yang penuh
gairah menimba ilmu. “Habibah, selamat ya kamu mendapat beasiswa tahfidz”,
sahut syauqina sembari berlari menuju parkiran dimana aku berdiri disebelah
motorku. “Alhamdulillah”, ucapku penuh syukur dihiasi airmata yang berlinang dipipi.
Betapa bahagianya kabar ini untukku, juga untuk sahabatku, syauqina. Yang
selalu setia menemaniku belajar dan berjuang. Tak banyak yang bisa kuucapkan
selain rasa syukur, karna tanpa bantuan-Nya ku tak bisa apa-apa.
Beberapa menit
bercengkerama diparkiran, aku dan sahabatku bergegas menuju kelas kita, karna
dosen telah melangkah penuh semangat untuk membimbing kita hari ini. Bagi
kebanyakan orang, hari senin adalah hari yang menyebalkan, namun bagiku, hari
senin adalah hari yang ku tunggu, karena dengan datangnya hari ini, ku bisa
bertemu dan berkumpul serta bercengkerama berbagi pengetahuan dengan
teman-teman seperjuangan. Seperti biasa, 20 menit diawal pertemuan akan
diadakan presentasi dan dilanjut dengan diskusi. Setelah datang sesi diskusi,
kelas kita mendadak dihujani pertanyaan dan pendapat dari orang-orang hebat.
Mayoritas dikelasku adalah orang-orang yang berpotensi dan orang-orang hebat.
Terkadang akupun minder dibuatnya.
Jam menunjukkan
pukul 12, itu tandanya aku dan teman-temanku harus berpisah untuk waktu yang
tak begitu lama. Akupun segera mengemas buku-bukuku dan beranjak meninggalkan
kelas. Baru satu langkah ku meninggalkan kelas, Ali memanggilku dan mengajakku
sedikit berbincang. Kutanggapi pertanyaan dan pernyataan yang keluar dari mulutnya.
Namun, sontak ku terkejut dengan kalimatnya yang ia lontarkan diakhir. Ia
mengajakku menjalin cinta seperti orang pada umumnya, yang biasa anak remaja
zaman sekarang menyebutnya dengan kata pacaran. “Maaf, ku hargai perasaanmu.
Namun, kudatang kesini untuk menuntut ilmu, bukan untuk pacaran. Sekali lagi ku
mohon maaf”. Ia pun terdiam mendengar jawabanku. Tak lama kemudian, ia
tersenyum dan meningalkanku seorang diri. Sementara teman-temanku yang lain
telah bergegas menuju masjid.
Dengan menghela nafas
yang panjang, aku pun berdiri dan menyusul teman-temanku menuju masjid. Seusai
sholat dzuhur, aku dan syauqina (sahabatkku yang biasa ku panggil iin) bergegas
penuh semangat menuju perpustakaan untuk sekedar membaca atau terkadang
meminjam buku. Sepanjang jalan menuju perpustakaan, kami banyak bercengkerama,
hingga akhirnya ku melihat sosok lelaki yang menggoncang hatiku. Senangnya
hatiku, berdebar jantungku, berdenyut nadiku tak menentu, saat ku tau disudut
perpustakaan ada sosok lelaki yang kukagumi sedang serius membaca buku. Entah
apa yang ia baca, tapi wajah seriusnya, mampu membuatku terpaku dan membisu.
“Habibah, ayoo” tegur iin membuyarkan lamunanku. “E...e..e..h...iya in”.
“astaghfirullahal'adzim, maafkan hamba yang sudah mengaguminya Ya Allah”.
Gumamku dalam hati. Ia adalah kakak kelasku, sekarang ia sedang menduduki
semester IV, beda denganku yang baru menginjak semester II. Ku mengenalnya
lewat beberapa UKM yang ia ikuti. Kebetulan, aku mengikuti UKM yang ia ikuti.
Tapi bukan berarti ku ikut UKM karena dia loh, tapi dimana aku mengikuti UKM
itu, dia ada. Jadi, menurutmu, siapa yang mengikuti?? hehe... Menurutku, ia
seorang yang aktif juga mempunyai motivasi internal yang begitu kental.
Teman-temanku biasa memanggilnya kak Hasyim.
Ditengah keseriusanku
dan iin membaca dan menggali ilmu dalam berbagai referensi, adzan ashar pun
memanggil dengan suara yang begitu merdu. Aku dan beberapa mahasiswa yang
berada diperpustakaan bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat ashar
termasuk dia yang kukagumi. Seusai sholat ashar, aku dan iin melangkah ke
parkiran untuk mengambil kuda besi kami. Tanpa membuang waktu banyak, kami
meninggalkan kampus tercinta dengan harapan bisa bertemu kembali diesok hari.
“hati-hati ya in”, ujarku sembari melontarkan senyum termanisku. “iya, kamu
juga hati-hati. Sampai bertemu besoooook”, jawabnya sembari menancap gas dan
meninggalkanku diiringi tawa nakalnya. Akupun segera menyusul iin dan kami
berpisah diperempatan jalan.
Dengan perasaan
bahagia ku berlari dengan kuda besiku. Sepanjang jalan tak lupa untuk selalu
bershalawat dan menyebut asma-Nya, karena bukan tidak mungkin kalau dalam
perjalanan pulang, aku menghadapi malaikat izroil yang siap menjemputku.
Begitulah pesan ibuku yang selalu kuingat. Tak terasa waktu begitu cepat
bergulir, setelah sampai rumah ku terus berlari mendekap ibuku yang tengah
berdiri menyambutku. Kucium kening ibu sembari menyerahkan sertifikat tahfidz
yang aku dapatkan. “Alhamdulillah” sahut ibuku sembari senyum yang dihiasi
dengan air mata yang terbendung dalam kelopaknya yang kian melukiskan kerutan
kebahagiaan.
Pagi berganti siang, sore pun berganti malam.
Purnama tersenyum sangat menawan menemani hatiku yang berbunga. Sungguh indah
malam ini. Ku tatap wajah ibu, bapak dan adikku yang telah tertidur pulas.
Betapa beruntungnya aku memiliki kalian semua dalam hidupku. Tanpa kalian, aku
tak mungkin sekuat ini. Jam menunjukkan pukul sepuluh, ku beranjak untuk
menutup mata. Memang betul, waktu terasa sangat cepat jika kita menikmatinya. Serasa
baru ku menutup mata, jam bekerku sudah membangunkanku. Alhamdulillah Engkau
masih memberiku kesempatan tuk melaksanakan dua rakaat di sepertiga malam ini.
“Ya Allah, terima kasih atas apa yang Engkau berikan selama ini. Tiada satupun
nikmatMu yang aku dustakan. Ya Allah, maafkan aku telah mengagumi makhlukMu.
Jika ia adalah yang terbaik untuk aku, dunia serta akhiratku, izinkanlah ia
menjadi imam dalam hidupku. Tapi jika menurutMu, aku harus belajar lagi
membenahi diriku, bantu aku untuk tetap teguh mencari ilmu”. Lirihku dalam
sunyinya sepertiga malam terakhir.
Seperti biasa, ku
jalani hari-hariku dengan kegiatan yang sudah terjadwal. Detik berganti menit,
jam pun berganti hari, hari berganti tahun. Tanpa terasa, diujung semesterku,
aku melihat kak hasyim yang sedang bersilaturahim ke kampus. Lagi-lagi ia
menuju perpustakaan. Maklumlah, ia terbilang mahasiswa yang kutu buku, makanya
ku sering bertemu dengannya di perpustakaan. Tanpa sengaja, kami pun tersambung
dalam sebuah perbincangan yang membuat hatiku berdebar tak menentu. “eeh, kak
hasyim, ko sendirian sih kak?” sapaku. “iya. Gimana kuliahnya? Lancar? Sudah
siap buat diwisuda?” tanya kak hasyim. “alhamdulillah kak sudah. Kakak sekarang
kegiatannya apa?”. “alhamdulillah sekarang lagi sibuk ini dan itu. Hehe..”.
Hmmm begitulah kak hasyim yang selalu bertawadu'. Padahal setauku, seusai lulus
dari Stai Anak Bangsa, kak hasyim melanjut ke UIN yogya. Belum lagi dirumahnya
telah membangun TPA yang dikelola bersama pamannya. Setelah terjadi sedikit
perbincangan. Aku pun pamit meninggalkan kak hasyim. Sebenarnya, Sungguh hal
yang tak ingin kutinggalkan. Tapi apalah daya, ku harus menjumpai dosen
pembimbingku untuk menyelesaikan skripsiku.
Alhamdulillah,
semuanya lancar. Aku pun lulus dengan nilai IP tertinggi diantara
teman-temanku. Hari-hari di Stai Anak Bangsa, kulalui dengan semangat, tawa dan
keceriaan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku pun diterima ngajar di
MAN 1 Kaliwedi. Sekolah favorit di desaku. Semuanya masih berjalan lancar dan
tanpa banyak gelombang kehidupan. Semuanya masih bisa diatasi dengan baik dan
happy. Ditambah dengan datangnya hari yang tak pernah kuimpikan namun selalu ku
dambakan, menghampiriku dengan membawa sejuta kebahagiaan. Tak disangka, Allah
mengabulkan do'aku. Kak hasyim melamarku. Subhanallah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar