Kamis, 21 Juli 2016

cerpen kehidupan



Ilmu kukejar, cinta menghampiri
            Di sebuah rumah sederhana aku dan keluargaku bercengkrama. Pada suatu hari yang cerah, aku bergegas menuju kampus tercintaku untuk menimba ilmu. “habibah, jangan lupa sarapan dulu”, begitulah teriak ibuku jika beliau tau aku sudah berdandan rapih menuju pintu. Yah, karena beliau paham betul dengan kebiasaanku yang jarang sekali bercengkreama dengan nasi. Tanpa berfikir panjang, akupun mengiyakan nasehat ibu. Aku menyantap masakan ibuku dengan adikku.  Tanpa waktu yang lama, piringku telah bersih dari hidangan pagi ini. Tak lupa ku pamit dengan ibuku dan juga adik-adikku. Kebetulan, hari ini adikku libur sekolah karna ada try out untuk siswa kelas IX.  Subhanallah, mentari menyambutku dengan sebuah keceriaan dan semangat yang menggebu. Tanpa membuang banyak waktu, ku tunggangi kuda besiku dan siap meluncur ke kampus tercintaku.
            15 menit sudah ku menyusuri jalan yang berliku. Akhirnya ku sampai dikampus tercintaku, Stai Anak Bangsa. Suasana kampus menyambutku dengan keramahan dan pesonanya yang penuh gairah menimba ilmu. “Habibah, selamat ya kamu mendapat beasiswa tahfidz”, sahut syauqina sembari berlari menuju parkiran dimana aku berdiri disebelah motorku. “Alhamdulillah”, ucapku penuh syukur dihiasi airmata yang berlinang dipipi. Betapa bahagianya kabar ini untukku, juga untuk sahabatku, syauqina. Yang selalu setia menemaniku belajar dan berjuang. Tak banyak yang bisa kuucapkan selain rasa syukur, karna tanpa bantuan-Nya ku tak bisa apa-apa.
            Beberapa menit bercengkerama diparkiran, aku dan sahabatku bergegas menuju kelas kita, karna dosen telah melangkah penuh semangat untuk membimbing kita hari ini. Bagi kebanyakan orang, hari senin adalah hari yang menyebalkan, namun bagiku, hari senin adalah hari yang ku tunggu, karena dengan datangnya hari ini, ku bisa bertemu dan berkumpul serta bercengkerama berbagi pengetahuan dengan teman-teman seperjuangan. Seperti biasa, 20 menit diawal pertemuan akan diadakan presentasi dan dilanjut dengan diskusi. Setelah datang sesi diskusi, kelas kita mendadak dihujani pertanyaan dan pendapat dari orang-orang hebat. Mayoritas dikelasku adalah orang-orang yang berpotensi dan orang-orang hebat. Terkadang akupun minder dibuatnya.
            Jam menunjukkan pukul 12, itu tandanya aku dan teman-temanku harus berpisah untuk waktu yang tak begitu lama. Akupun segera mengemas buku-bukuku dan beranjak meninggalkan kelas. Baru satu langkah ku meninggalkan kelas, Ali memanggilku dan mengajakku sedikit berbincang. Kutanggapi pertanyaan dan pernyataan yang keluar dari mulutnya. Namun, sontak ku terkejut dengan kalimatnya yang ia lontarkan diakhir. Ia mengajakku menjalin cinta seperti orang pada umumnya, yang biasa anak remaja zaman sekarang menyebutnya dengan kata pacaran. “Maaf, ku hargai perasaanmu. Namun, kudatang kesini untuk menuntut ilmu, bukan untuk pacaran. Sekali lagi ku mohon maaf”. Ia pun terdiam mendengar jawabanku. Tak lama kemudian, ia tersenyum dan meningalkanku seorang diri. Sementara teman-temanku yang lain telah bergegas menuju masjid.
            Dengan menghela nafas yang panjang, aku pun berdiri dan menyusul teman-temanku menuju masjid. Seusai sholat dzuhur, aku dan syauqina (sahabatkku yang biasa ku panggil iin) bergegas penuh semangat menuju perpustakaan untuk sekedar membaca atau terkadang meminjam buku. Sepanjang jalan menuju perpustakaan, kami banyak bercengkerama, hingga akhirnya ku melihat sosok lelaki yang menggoncang hatiku. Senangnya hatiku, berdebar jantungku, berdenyut nadiku tak menentu, saat ku tau disudut perpustakaan ada sosok lelaki yang kukagumi sedang serius membaca buku. Entah apa yang ia baca, tapi wajah seriusnya, mampu membuatku terpaku dan membisu. “Habibah, ayoo” tegur iin membuyarkan lamunanku. “E...e..e..h...iya in”. “astaghfirullahal'adzim, maafkan hamba yang sudah mengaguminya Ya Allah”. Gumamku dalam hati. Ia adalah kakak kelasku, sekarang ia sedang menduduki semester IV, beda denganku yang baru menginjak semester II. Ku mengenalnya lewat beberapa UKM yang ia ikuti. Kebetulan, aku mengikuti UKM yang ia ikuti. Tapi bukan berarti ku ikut UKM karena dia loh, tapi dimana aku mengikuti UKM itu, dia ada. Jadi, menurutmu, siapa yang mengikuti?? hehe... Menurutku, ia seorang yang aktif juga mempunyai motivasi internal yang begitu kental. Teman-temanku biasa memanggilnya kak Hasyim.
            Ditengah keseriusanku dan iin membaca dan menggali ilmu dalam berbagai referensi, adzan ashar pun memanggil dengan suara yang begitu merdu. Aku dan beberapa mahasiswa yang berada diperpustakaan bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat ashar termasuk dia yang kukagumi. Seusai sholat ashar, aku dan iin melangkah ke parkiran untuk mengambil kuda besi kami. Tanpa membuang waktu banyak, kami meninggalkan kampus tercinta dengan harapan bisa bertemu kembali diesok hari. “hati-hati ya in”, ujarku sembari melontarkan senyum termanisku. “iya, kamu juga hati-hati. Sampai bertemu besoooook”, jawabnya sembari menancap gas dan meninggalkanku diiringi tawa nakalnya. Akupun segera menyusul iin dan kami berpisah diperempatan jalan.
            Dengan perasaan bahagia ku berlari dengan kuda besiku. Sepanjang jalan tak lupa untuk selalu bershalawat dan menyebut asma-Nya, karena bukan tidak mungkin kalau dalam perjalanan pulang, aku menghadapi malaikat izroil yang siap menjemputku. Begitulah pesan ibuku yang selalu kuingat. Tak terasa waktu begitu cepat bergulir, setelah sampai rumah ku terus berlari mendekap ibuku yang tengah berdiri menyambutku. Kucium kening ibu sembari menyerahkan sertifikat tahfidz yang aku dapatkan. “Alhamdulillah” sahut ibuku sembari senyum yang dihiasi dengan air mata yang terbendung dalam kelopaknya yang kian melukiskan kerutan kebahagiaan.
              Pagi berganti siang, sore pun berganti malam. Purnama tersenyum sangat menawan menemani hatiku yang berbunga. Sungguh indah malam ini. Ku tatap wajah ibu, bapak dan adikku yang telah tertidur pulas. Betapa beruntungnya aku memiliki kalian semua dalam hidupku. Tanpa kalian, aku tak mungkin sekuat ini. Jam menunjukkan pukul sepuluh, ku beranjak untuk menutup mata. Memang betul, waktu terasa sangat cepat jika kita menikmatinya. Serasa baru ku menutup mata, jam bekerku sudah membangunkanku. Alhamdulillah Engkau masih memberiku kesempatan tuk melaksanakan dua rakaat di sepertiga malam ini. “Ya Allah, terima kasih atas apa yang Engkau berikan selama ini. Tiada satupun nikmatMu yang aku dustakan. Ya Allah, maafkan aku telah mengagumi makhlukMu. Jika ia adalah yang terbaik untuk aku, dunia serta akhiratku, izinkanlah ia menjadi imam dalam hidupku. Tapi jika menurutMu, aku harus belajar lagi membenahi diriku, bantu aku untuk tetap teguh mencari ilmu”. Lirihku dalam sunyinya sepertiga malam terakhir.
            Seperti biasa, ku jalani hari-hariku dengan kegiatan yang sudah terjadwal. Detik berganti menit, jam pun berganti hari, hari berganti tahun. Tanpa terasa, diujung semesterku, aku melihat kak hasyim yang sedang bersilaturahim ke kampus. Lagi-lagi ia menuju perpustakaan. Maklumlah, ia terbilang mahasiswa yang kutu buku, makanya ku sering bertemu dengannya di perpustakaan. Tanpa sengaja, kami pun tersambung dalam sebuah perbincangan yang membuat hatiku berdebar tak menentu. “eeh, kak hasyim, ko sendirian sih kak?” sapaku. “iya. Gimana kuliahnya? Lancar? Sudah siap buat diwisuda?” tanya kak hasyim. “alhamdulillah kak sudah. Kakak sekarang kegiatannya apa?”. “alhamdulillah sekarang lagi sibuk ini dan itu. Hehe..”. Hmmm begitulah kak hasyim yang selalu bertawadu'. Padahal setauku, seusai lulus dari Stai Anak Bangsa, kak hasyim melanjut ke UIN yogya. Belum lagi dirumahnya telah membangun TPA yang dikelola bersama pamannya. Setelah terjadi sedikit perbincangan. Aku pun pamit meninggalkan kak hasyim. Sebenarnya, Sungguh hal yang tak ingin kutinggalkan. Tapi apalah daya, ku harus menjumpai dosen pembimbingku untuk menyelesaikan skripsiku.
            Alhamdulillah, semuanya lancar. Aku pun lulus dengan nilai IP tertinggi diantara teman-temanku. Hari-hari di Stai Anak Bangsa, kulalui dengan semangat, tawa dan keceriaan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku pun diterima ngajar di MAN 1 Kaliwedi. Sekolah favorit di desaku. Semuanya masih berjalan lancar dan tanpa banyak gelombang kehidupan. Semuanya masih bisa diatasi dengan baik dan happy. Ditambah dengan datangnya hari yang tak pernah kuimpikan namun selalu ku dambakan, menghampiriku dengan membawa sejuta kebahagiaan. Tak disangka, Allah mengabulkan do'aku. Kak hasyim melamarku. Subhanallah...
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar